Cerpen : by Choriah Damalina Ginting Munthe

………. Juna menggeleng pelan. “Gue serius…” “Why…?” Juna menarik nafas dalam.

“Karna gue sakit ..Ica, lo bisa tertular…udah seharusnya lo sadar kenapa gue selalu menjaga makan yang gue makan dan tidak terlalu ngasih barang barang gue ke lo…gue bakal mati, tapi lo harus ngejar mimpi lo…” kata Juna dalam hati.

“Juna…!” bentak Ica, menyadarkannya. “Karna gue dah bosan…” Juna memaki dirinya, karena justru kata-kata itu yang keluar dari mulutnya. “Lo jahat…” maki Ica, sambil memukul dada bidang Juna, melampiaskan kekesalannya.

“Mendingan lo cari yang lain deh.. sejak gue ke Jepang, rasa sayang gue udah nggak ada lagi…” kata Juna lirih. Ia berusaha menahan diri untuk tidak memeluk Ica yang sedang menangis.

“Lupakan gue Ca…anggap ini semua adalah mimpi buruk..yang terulang kembali..” “Ya..gue gak mestinya nangisin cowok keparat kayak lo…” maki Ica dengan tatapan tidak bersahabat, jiwa psikopatnya yang hampir dua bulan terkubur, muncul kembali.

“Pergi lo dari rumah gue bangsat…!!!” maki Ica dan tanpa aba- aba menarik tangan Juna agar pergi. Juna memandang pintu rumah Ica yang kini tertutup rapat. Ingatannya kembali mengingat kata kata orang tuanya.

Bahwa dia harus berangkat ke AS, karena di sana ada kemungkinan untuk memperpanjang umurnya. “Juna…” Juna menoleh dan tersenyum hampar. “Om Tio…” “Makasih…karna udah ngelakuin apa yang om sarankan…waktu akan mengubah semuanya..”

 “Tapi …” “Awalnya sakit.. tapi lama kelamaan akan terbiasa..Juna, kuharap kamu mengerti…” “Bisakah om memberi buku ini kepada Ica..?” Tio menerima buku itu dan tersenyum.

“Akan om kasih..” “Selamat tinggal…” Juna berjalan dengan tatapan hampar. (bersambung……)

Author

Write A Comment