Cerpen : by Choriah Damalina Ginting Munthe

………..“Ica…seharusnya kita gak bertemu lagi…” lirih Juna saat kembali dari lamunannya.

Hari terus berlalu, akhirnya Ica tau kalau Juna adalah pacarnya yang telah pergi tanpa kontak selama dua tahun. Awalnya Ica marah besar dan tidak mau memaafkan Juna. Tapi tidak ada yang bisa disalahkan jika cinta sudah ambil alih semuanya.

Tanpa sadar bahwa luka itu akan terlalu dalam untuk dilupakan. Bagai yang diibaratkan cinta yang bersemi kembali, tidak ada yang sebenarnya istimewa, namun dapat membuat hidup Ica lebih berwarna.

“Lo harus melupakan Ica….” suara serak itu terdengar saat Juna baru pulang kencan dengan Ica. “Ngapain lo dirumah gue..” kata Juna dingin saat melihat sosok Iva duduk manis di teras rumahnya.

“Peringatan….” kata Iva penuh penekanan. “Itu urusan gue…” Iva tertawa sumbang. “Asap nggak bakal bisa ditutupi…selagi masih ada api di bawahnya…” “Dan lo adalah apinya …ya kan?” Iva mengangguk.

“Tebakan lo benar…jadi siap siap…” Iva memperjelas kenyataan. Iva memandang Juna lama. “Awalnya gue sempat jatuh cinta sama lo untuk kedua kalinya….tapi, setelah gue tau apa penyakit lo…”aku Iva datar.

Juna memejamkan matanya. “Dari mana lo tau?” “Gue ada di sana….lo ngidap penyakit A*** kan?” Nada bicara Iva mengejek. “Kenapa lo selalu ngebuat hidup Ica sulit…” tanya Juna frustasi.

“Karna Ica telah merebut orang yang gue suka…”aku Iva tanpa rasa malu. “Dan orang itu adalah lo…”jelasnya. “Gue muak liat lo…” maki Juna dengan nada kasar, kemudian meninggalkan Iva.

“Api akan ada…” samar samar Juna masih mendengar perkataan Iva. “Bangsat….!”Juna menjambak rambutnya putus asa. (bersambung…)

Author

Write A Comment