HomeBeritaIPK 4.0, Penting Nggak Sih?

IPK 4.0, Penting Nggak Sih?

Advertisements
halaman resmi Badan Pengusahaan Batam

IPK singkatan dari Indeks Prestasi Kumulatif atau bahasa kerennya GPA (Grade Point Average) merupakan ukuran kemampuan mahasiswa sampai pada periode tertentu yang dihitung berdasarkan jumlah SKS yang telah ditempuh.

Bagi sobat santuy yang masih kuliah, penting nggak sih IPK tinggi? Sebut saja namanya, Boy. Salah satu mahasiswa Fakultas Pertanian, Jurusan Sosial dan Ekonomi, di Sam Ratulangi, Manado ini cukup pintar di kampusnya.

Ilustrasi: buku Bob Sadino. FOTO/ suarakala.id

Akhir pekan ini, Boy mau berbagi tips, agar IPK sobat santuy tinggi. Pertama kali yang harus dilakukan:

1. Kehadiran

Selain untuk menambah nilai softskill, kehadiran juga dianggap Boy dapat membuat kita lebih paham tentang mata kuliah apalagi kalau di kampus kebanyakan dosen masih menggunakan metode menerangkan di depan kelas.

2. Tugas Selalu Dikumpul tapi Jangan Asal Selesai

Selalu usahakan tugas kita beda dari yang lain. Maksudnya, kalau orang lain mengambil referensi dari satu sumber maka kita harus lebih dari itu. Nantinya akan dipadukan.

3. Aktif Di Kelas

Menanyakan topik yang kurang kita pahami kepada dosen memang kadang membuat dosen merasa kita memperhatikan penjelasannya. Biasanya orang-orang seperti ini akan disukai para dosen. Asal jangan nanya yang aneh-aneh saja ya.

4. Banyak Berdoa dan Berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa

Manurut Boy, tanpa kuasa Tuhan semua usaha pasti akan sia-sia. Wah religius sekali mahasiswa satu ini.

Memasuki semester ke-4 Boy sudah 2 kali memperoleh IPK 4.0 yakni di semester 1 dan 3. Meskipun demikian Boy katanya belum bangga karena merasa masih harus mempertahankan nilainya sampai lulus.

Kalau ditanya terkait IPK tidak penting di dunia kerja, Boy tidak setuju karena merasa IPK bisa menjadi salah satu tolak ukur tanggung jawab dan potensi kita di perkuliahan.

“Ya, sekarang gini kita jangan selalu mengeluarkan kata-kata agar lepas dari tekanan. Tidak bisa dipungkiri IPK juga dituntut ketika kita ingin mengajukan beasiswa contohnya,” kata Boy.

Tapi Boy juga tidak menyalahkan pandangan orang lain tentang tidak pentingnya IPK ini. Menurutnya semua orang bebas punya pendapat sendiri.

Berprestasi di mata kuliah lantas tidak membuat Boy menutup diri dari pergaulan. Boy juga masih punya cukup waktu untuk mengikuti organisasi di kampusnya seperti Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi (Himaseta) dan Arenga Pinata ( organisasi yang bergerak dalam bidang minat dan bakat).

Penulis: Aminah

No comments

leave a comment