SUARAKALA.id – Capital Market Seminar Expo (CMSE) 2020 yang digelar secara virtual bertujuan untuk meningkatkan literasi serta inklusi masyarakat terhadap Pasar Modal Indonesia.

Penyelenggaranya dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI).

baca juga : PT. Batam Expresindo, Marine and Shipyard Industries in Batam

baca juga : PT Batamec, Marine and Shipyard Industries in Batam

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso memaparkan tiga upaya yang dilakukan otoritas untuk menjadikan aktivitas investasi di pasar modal dapat berkontribusi bagi pemulihan ekonomi Indonesia.

Pertama, memperluas akses keuangan dan mempermudah investasi.”Yang terpenting adalah memperluas basis player-nya. Basis investor dan issuer diperbesar jadi tidak tergantung pada sekelompok investor besar saja,” ujar Wimboh dalam paparannya secara virtual dalam rilis BEI, Senin (2/11/2020).

Kedua menurut Wimboh, mempermudah proses memperoleh pendanaan dari pasar modal. Seperti: dibuatkannya papan akselerasi untuk Usaha Kecil Menengah, equity crowdfunding, dan perizinan elektronik terintegrasi.

Ketiga, meningkatkan perlindungan investor untuk menjaga kepercayaan masyarakat.

Menurut Wimboh, regulator akan berupaya membuat kebijakan penanangan fluktuasi pasar, penguatan market conduct dan GCG, serta pengaturan disgorgement fund.

Lantas seperti apa solusi bagi perusahaan tercatat yang terdampak pandemi?

Melli Darsa WKU HKHPM, Bidang Eksternal & Sr. Partner of Melli Darsa & Co. (Member of PwC), pembicara seminar membagi kategori perusahaan tercatat di masa pandemi ada 3 kelompok dalam satu piramida.

Pertama, katagori merah yang ada di bagian puncak piramida dan jumlahnya paling sedikit. Ini adalah kelompok perusahaan dengan cashflow perusahaan sangat terganggu.

Perusahaan ini membutuhkan likuiditas/PMN dikombinasikan dengan aksi korporasi yang bisa berupa restrukturisasi hutang atau perusahaan.

Kedua, kategori kuning. Perusahaan ini memiliki cashflow yang hanya mencukupi sebagian kebutuhan operasional sehingga membutuhkan bantuan likuiditas namun belum tentu memerlukan restrukturisasi perusahaan.

Ketiga, katagori hijau di bagian bawah piramida yang jumlahnya paling besar. Perusahaan-perusahaan yang memiliki cashflow masih mencukupi sehingga untuk menghadapi COVID-19 tidak diperlukan aksi internal korporasi.

Kemudian, ada empat opsi restrukturisasi yang dipaparkan oleh Melli Darsa.

Pertama, value creation. Melalui tindakan KSO, Merger, Konsolidasi, Holding atau Sub-Holdingnisasi.

Kedua, restrukturisasi untuk perusahaan memiliki akses ke pasar modal internasional. Dilakukan dengan cara menerbitkan Global bond, MTN, Secured Notes, IPO, termasuk repayment dengan pengeluaran bond.

Ketiga, restrukturisasi utang buat Perusahaan Tercatat yang mengalami gangguan cashflow, dengan cara meminta loan rescheduling, Security Add dan Debt to Equity Swap.

Keempat, restrukturisasi dalam rangka menarik investor baru, bisa dilakukan dengan cara akuisisi termasuk LBO.

Perusahaan yang ingin mengetahui secara detail tahapan yang harus dilakukan untuk menjakankan opsi-opsi tersebut, beserta dasar-dasar hukumnya, bisa mengakses secara detail pada materi yang ada di website CMSE.

Materi dalam pembahasan yang sama disajikan PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO).

CEO PEFINDO Salyadi Saputra, memaparkan Tahapan Restrukturisasi Surat Utang Perusahaan dan Dampak COVID-19 terhadap Kinerja Surat Utang Perusahaan.

Pihaknya membagi lima sektor usaha dilihat dari dampak yang dialami akibat Pandemi COVID-19.

Pertama adalah kelompok very high yang terkena dampak terberat, yakni airport, tourism, restaurant, hotel dan transportation.

Kedua, sektor usaha yang dikatagorikan high, yaitu, Retail trade, Building construction, Financial institutions, Coal mining, Crude petroleum & natural gas, land and stone quarrying, metal & mineral mining, Non-building construction, Automotive & components, Cement, Ceramics glass porcelain, Cosmetics and households, Electronics, Fishery, Footwear, Textile & garment.

Ketiga, sektor usaha dalam kelompok moderat yakni Banking, Advertising, printing, media, Houseware, Tobacco manufacturers, Chemicals, Computer and services, machinery & heavy equipment, metal & allied products, Wood industry, Pulp & paper, Other consumer goods, Plastic packaging dan Toll road.

Keempat, kelompok dalam katagori Low yaitu, Food & beverages, Wholesale durable & non-durable goods, Energy, Plantation, Crops, Animal feed, Animal husbandry, Cable, Harbour.

Kelima, kelompok netral atau yang paling kecil terkena dampak adalah Healthcare,Pharmaceuticals dan Telecommunications.

Adapun strateginya: efisiensi belanja modal dan biaya operasional. Negosiasi dengan vendor untuk keringanan pembayaran tagihan investasi selama pandemi.

Asset sales meningkatkan aktivitas collection penjualan secara discount restrukturisasi utang bank. Meminta support dari induk perusahaan/group Sinergi BUMN dan mengusahakan PMN (Penanaman Modal Negara).

Langkah lainnya adalah penerbitan surat utang baru untuk menjaga cashflow terutama untuk refinancing restrukturisasi surat utang. Langkah detailnya bisa diunduh pada materi presentasi PEFINDO yang ada website CMSE 2020.

Penulis : Iko

Author

Write A Comment