Halaman Resmi BP Batam
HomeLingkunganIni Bukan Seremoni, Cuma Mengurangi “Noda-Noda” Di Wajah Terluar NKRI

Ini Bukan Seremoni, Cuma Mengurangi “Noda-Noda” Di Wajah Terluar NKRI

SUARAKALA.id, BATAM – Lumayan banyak sampah yang terkumpul Minggu (1 /3/2020) itu. Puluhan trush bag (kantong hitam) yang isinya macam-macam. Mulai dari plastik kemasan makanan ringan, kantong kresek, botol minuman mineral lokal, streofom dan lainnya.

Yang dipungut itu baru di tepi pantainya Pulau Putri, Nongsa, Batam, Kepri. Belum lagi yang di pantai lainnya. Dari mana asal sampah plastik tersebut?

Nggak percaya? Sobat Santuy bisa cek sendiri sambil jalan-jalan ke pulau yang digadang-gadang menjadi salah satu ikon wisata di Batam itu. Seperti yang dilakukan rombongan Santri Pecinta Alam (SAPALA) dari MAN Insan Cendekia Kota Batam ini.

Pengangkutan sampah platik dari Pulau Putri menuju gerobak sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batam. FOTO/ dok untuk suarakala.id

Mereka nggak banyak. Tapi sengaja naik pompong menyeberang hanya untuk memungut sampah di pulau yang dijadikan penanda batas terluar NKRI dengan negara Singapura dan Malaysia itu.

“Ini hanya inisiatif dan melanjutkan program kami sebagai Santri Pecinta Alam,” cerita Wawan Ketua SAPALA MAN Insan Cendekia Kota Batam. “Kami mencoba mengurangi noda-noda yang melekat di wajah terluar NKRI,” timpalnya.

Sample sampah di Pulau Putri.

Bersih-bersih pantai itu temanya “Ayo Move On Dari Sampah” bersampena Hari Sampah Nasional pada 21 Februari 2020 lalu. “Meskipun sudah lewat, yang penting pesan moril kita tercapai, karena ini bukan seremoni,” tegasnya.

Alhamdulillah, bersih-bersih ini didukung sepenuhnya oleh masyarakat setempat. Pulau Putri jadi tempat tujuan wisata. Tapi wisatawan seolah tak peduli. Pulang dan menyisakan sampah plastik.

“Tempat sampah sudah kami sediakan di setiap titik. Tapi masih ada juga yang buang sampah sembarangan,” sesal masyarakat setempat. Sebanyak 20 trash bag sampah berasal dari Pulau Putri, serta 10 trash bag sampah didapat dari Pantai Nongsa. Sampah-sampah tersebut lalu diangkut dengan pickup menuju gerobak sampah milik Dinas Kebersihan yang ada di Kecamatan Nongsa.

“Bila tidak diangkut dari sini, sampah-sampah ini akan tetap berada di Pulau Putri dan Pantai Nongsa, percuma saja kita melakukan aksi bersih bila sampah yang kita kumpulkan masih kita taruh disekitar sini,” tambah Reza, Pembina SAPALA.

Anggota SAPALA, bersih-bersih sampah di Pulau Putri, Nongsa, Batam. FOTO/ dok untuk suarakala.id

Bersih-bersih itu ditutup dengan sosialisasi “Ecobrick Sebagai Pengelolaan Sampah Pribadi”. Ecobrick itu cara mengumpulkan sampah plastik seperti bungkus permen dan makanan ringan kedalam botol plastik hingga padat. Kemudian kumpulan botol-botol plastik tersebut disatupadukan menjadi sebuah karya benda yang kita inginkan.

“Saya harap seluruh anggota SAPALA dapat memulai menciptakan ecobrick, menggunakan goodybag, membawa tumbler untuk pengurangan dan memanajemen sampah plastik, serta menjadi percontohan untuk teman-teman di lingkungan MAN Insan Cendekia khususnya” pesannya.

Yang hadir seluruh anggota SAPALA mulai dari angkatan I hingga angkatan  termuda yaitu angkatan III yang didampingi oleh Pembina SAPLA, serta yang turut membantu perwakilan dari Insan Cendekia Jurnalis (ICJ).(Taring)

No comments

leave a comment