HomeBeritaHarga Rokok Naik, Biar Ngirit Coba Aja Lakukan Ini!

Harga Rokok Naik, Biar Ngirit Coba Aja Lakukan Ini!

SUARAKALA.id – Cieee…yang mulutnya ‘asam’ habis makan, kalau nggak rokok-an. Yang lagi buntu saat ngerjain tugas, sambil gitaran atau yang punya kebiasaan nongkrong di ‘bilik bermenung’ (toilet) perlu sebat (sebatang) rokok?

Apakah kebiasaan ini akan berlanjut atau dikurangi karena harga rokok dibanderol tidak murah lagi? Berikut ulasan yang dirangkum suarakala.id dari berbagai pendapat milenial di Batam terkait naiknya harga rokok tahun 2020 ini:

Ilustrasi; rokok dalam etalase pedagang kaki lima di Batamcentre. FOTO/ suarakala.id

1. Seperti pemuda bernama Bintang ini. Yang punya kebiasaan merokok dua bungkus sehari. Merek rokoknya Dunhil dibanderol Rp 25 ribu yang dibelinya di salah satu gerai waralaba.

Pemuda ini menyebut, sekitar Desember lalu harga rokok Sigaret Kretek Mesin itu dijual Rp 22 ribu. Tapi harga tersebut pelan-pelan merangkak naik.

Nah di awal tahun ini, Bintang berencana beralih ke tembakau gulungan. Harga tembakau itu dibelinya seharga Rp 15 ribu dicampur cengkeh, dalam bungkus plastik ukuran setengah kilogram.

Tembakau itu digulung dengan kertas (papper). Cukup banyak loh sobat santuy. “Dapat puluhan batang lah,” kata Bintang ditemui suarakala.id di kedai kopi, bilangan Batamcentre, Kamis (2/1/2019). Tapi, tembakau ini masih sulit ditemui di Batam.

2.  Selain itu, ada juga yang beralih ke rokok non banderol. Seperti Joko yang belum punya kerjaan tetap. Joko menahan seleranya. Pemuda ini memilih rokok FTZ (Free Trade Zone) yang dijual di bawah harga Rp 10 ribu per bungkusnya.

Jauh lebih murah loh sobat santuy. Memang rokok FTZ ini sudah lama beredar di Batam. Tapi masih banyak warga Batam yang belum familiar dengan rokok ini.

3. Walaupun tidak dadakan berhenti merokok, Nusa memilih cara lain untuk menghemat pengeluarannya sehari-hari. Dia membeli sebuah rokok elektrik. Rokok jenis ini dianggapnya lebih efisien sebab dapat diisi ulang dengan liquid atau cairan yang tersedia berbagai varian rasa.

Pelan-pelan, dia ingin mengurangi rokok tembakau akibat harga tak lagi bersahabat. Merek Dunhill yang biasa dia konsumsi mulai tinggi dari awalnya hanya Rp 23 ribu kini naik Rp 25 ribu.

Ilustrasi; penikmat rokok elektrik dan perokok cukai. FOTO/ suarakala.id

4. Agung pekerja swasta mengaku berusaha ‘ngerem’ untuk merokok. Apalagi sebungkus Marlboro yang biasa dibeli seharga Rp 25 ribu perbungkus, sekarang sudah naik Rp 5 ribu. “Berat di saku.

Kalau mau berhenti tergantung kondisi saku juga,” kata warga Batamcentre itu sambil menyebut satu bungkus rokok bisa tahan dua hari. Sebab, Agung di rumah tidak merokok, karena ada bayi.

5. Beda dengan Yovan. Warga Batubesar ini memilih berganti ke POD (rokok elektrik). Sobat santuy tentu tahu kalau POD kini lagi hype di kalangan muda mudi.

Bentuknya pipih seukuran mancis, lebih simple, kuat dari Vape. Harganya terjangkau di saku. Rp 300 ribu.

Tapi belum termasuk liquid, yang harganya paling murah Rp 60 ribu. Bedanya dengan Vape, tidak memakai kapas. Tapi diganti koil. Pemakaian rokok elektrik ini sebenarnya tergantung pemakaian sobat santuy.

Makin banyak dihisap cepat habis liquid nya. Ideal, nya tiga sampai empat kali hisap.

Penulis: Iko

No comments

leave a comment