SUARAKALA.id, Batam – Rabu 14 Oktober 2020 lalu adalah momen penting bagi etnis melayu di Kota Batam. Di mana masyarakat Batam berkumpul mengunjungi Kampung Terih Nongsa, untuk mengikuti Ritual mandi Safar.

Bagi etnis Melayu Batam, mandi Safar merupakan tradisi yang wajib hadir pada setiap bulan Safar tahun Hijriah Islam. Ritual ini merupakan warisan dari orang-orang tua terdahulu kepada generasi penerus sampai saat ini. Termasuk masyarakat melayu di Kampung Terih Nongsa.

baca juga : Paintball Kembali Dibuka, yang Hobi Simulasi Perang, Merapat ke Desa Wisata Kampung Terih

Masyarakat berkumpul di Kampung Terih Nongsa, Kepri.

Ritual mandi Safar dilaksanakan pada tanggal 26 hari Rabu terakhir pada bulan Safar tahun Hijriah. Tujuan dari mandi Safar sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah yang telah memberi kelimpahan rezeki pada etnis Melayu bermata pencarian sebagai nelayan.

Tokoh melayu yang mengerti adat istiadat dan tata cara mandi Safar biasa disebut dengan Imam. Hari itu, Seno yang menjadi Imam sekaligus juru kunci selama ritual mandi Safar di Kampung Terih, Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau.

“Sudah turun temurun dan setiap tahun kami laksanakan ini (mandi safar),” ucap Seno warga Kampung Terih, Nongsa ini kepada suarakala.id, usai kegiatan. Seno menilai, bila budaya ini tak dilaksanakan, seperti ada yang kurang dalam dirinya.

“Budaya harus dirawat dan dikerjakan, sebab ada nilai-nilai pengetahuan di dalamnya yang dapat diwariskan kepada generasi penerus,” katanya lagi.

Berikut tata cara mandi Safar yang dilaksanakan di Kampung Terih, Sambau, Nongsa, Batam, Kepulauan Riau:

Air tiga drum besar yang sudah berisi, lalu dibacakan doa oleh Imam, daun langi, tepung beras, diletakkan di dalam ember besi.

Anak-anak mengikuti ritual mandi Safar masyarakat melayu di Kampung Terih, Nongsa , Batam, Kepulauan Riau.

Sementara untuk prosesi kegiatan mandi Safar dimulai sejak pukul 08.00 WIB, Imam mulai membacakan doa tolak bale’ (bala). Di depannya ada mangkok besi berisi arang dan pasir.

Setelah membaca doa dilanjutkan dengan betabek atau minta izin dengan makhluk-makhluk gaib.

Usai dari mendoakan tolak bale dan betabek, Imam menunggu air laut surut terlebih dahulu, sembari menunggu serangkai kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Batam berupa pertunjukan musik etnis Melayu dari gabungan beberapa kelompok di Nongsa.

Tepat pukul 09.00 wib, anak-anak tadi diolesi oleh dedaunan yang sudah dicampur oleh tepung pada bagian tangan, badan, wajah, dan kaki. Usai diolesi, anak-anak tadi diarak menuju ke laut secara bersama-sama oleh seorang pemandu.

Usai anak-anak tadi berendam dan mandi laut, mereka diarak lagi ke atas untuk duduk kembali ke bangku yang sudah disediakan panitia. Lalu, anak-anak tadi dimandikan dengan air drum sebelumnya.

Seno menambahkan, manfaat dari mandi Safar: dapat menghadirkan keberanian dan keselamatan saat berenang, menyeberang, atau melaut. Selain itu, sebagai doa penyelamat membersihkan roh dan jasad manusia.

Penulis : Rivaldi Ihsan

Author

Write A Comment