SUARAKALA.id – Wabah virus corona merebak. Semua orang pro aktif mengkarantina diri sendiri. Jalan-jalan jadi lengang. Mall- mall ikut sepi.

Apalagi kedai kopi. Sama sepinya dengan dataran Welcome To Batam, Minggu (23/3/2020) sekitar pukul 20.00 WIB. 

Di pukul segini biasanya ramai pedagang dan warga yang berkunjung. Apalagi hari libur. Datang hanya untuk berswafoto dan berwisata kuliner. 

Covid -19 merebak. Korban mulai berjatuhan. Karantina mandiri diumumkan. Sosial distancing didengungkan.

Pedang yag biasanya tegang mengahadapi ramai nya pembeli kini berkurung diri di rumah.

Kondisi dataran Welcome To Batam saat wabah corona merebak di Batam. FOTO/ suarakala.id

Mereka tidak berjualan. Penghasilan pun nihil. Tabungan menipis. Tempat mereka berjualan di dataran Welcome To Batam “disegel” selama wabah merebak. 

Wabah kian merebak. Lalulintas manusia dari dan ke luar negeri ditutup. Semi lock down mungkin? Di Batam warga tak keluar rumah.

Kalimat lainnya, jangan ke Batam selama wabah virus corona menyebar. 
Itu pesan yang ingin disampaikan oleh  pembuat foto di judul berita. 

Dilarang “Come To Batam” Si pembuat foto memanfaatkan papan DILARANG PARKIR dengan tulisan Welcome To Batam dan situasi yang sedang terjadi saat ini. 

Untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona, pihak kepolisian dan penegak perda (Satpol PP) tak segan-segan membubarkan para pedagang dan pengunjung dataran Welcome To Batam. 

“Patroli ini skala besar dengan kekuatan 60 personil dan dilaksanakan setiap hari,” kata Kabid Humas Polda Kepri Kombes Harry Goldenhardt. 

Pihaknya meminta agar seluruh masyarakat tidak mengadakan kegiatan sosial kemasyarakatan yang menyebabkan berkumpulnya massa dalam jumlah banyak baik ditempat umum maupun di lingkungan sendiri. 

“Seperti, dalam bentuk seminar, lokakarya, konser musik, festival, bazar, pasar malam, pameran, unjuk rasa, kegiatan olahraga, kesenian, jasa hiburan, pawai, karnaval hingga resepsi keluarga,” jelasnya.

Apabila ada keperluan mendesak dan tidak dapat dihindari yang melibatkan banyak massa, agar dilaksanakan sesuai dengan protokol pemerintah dalam rangka pencegahan penyebaran covid-19.

Biasanya dataran ini riuh, kini seketika sepi. Suara musik kekinian dan suara tawarkan berbagai macam makanan berubah suara kodok di musim hujan. Begitu virus corona merubahnya. 

Banyak pedagang gelisah. Tak tahu berapa lama bertahan. Tabungannya tak banyak. Hanya cukup bertahan beberapa lama. Nggak tahu sampai kapan.

Seberapa kuat Sobat Santuy melewati ujian ini. Tenang, badai pasti pasti berlalu. Tapi, pertanyaanya?

Sanggupkah kita melewati badai ini. Banyak-banyak berdoa, ihtiar, jaga kesehatan.(Nino/Aminah)

Author

Write A Comment