HomeCurhat
Archive

SUARAKALA.id – Sobat santuy semua pasti pernah merasakan patah hati. Sakitnya tak tertahankan dan bisa-bisa membuat nafsu makan menghilang. Tak jarang, patah hati yang dirasakan tersebut merugikan diri sendiri. Selain nafsu makan berkurang akibat terbawa perasaan (baper), banyak dari mereka juga sering melamun bahkan sampai nekat untuk

Berulang kaliTeramat seringTerluka lalu mengeringDiantara kepulan asap harapanMenyeruak setitik bara kehancuran baca juga : Keraguan Ada apa dibalik senyummuDi sudut lancip bibirmuSaat dada berdetak pada senyum tersunggingNamun hati ini meringis rasa tersinggung Dimana maksud tujuan kau sembunyikanTunjukkan padaku sebenar maknaTerlalu sering kumakan umpanTeramat indah warna topeng kau tampakkan baca

Hey bujang!Taukah kau, aku dan merekaAtaukah kita lupa, dan sengaja melupaBagaimana indahnya bersemayamdi rahimDi tempat kasih sayang tiada bandingTuhan mencintaiMalaikat menjagaIbu menimang kesana kemariMata terpejamNadi berdenyutYang ia makan, kita makanYang ia pinta, semua untuk kita Hey bujangMengapa lancang kau bernafas?Mengapa berani kau buka matamu?Mengapa, mengapa? Kau kira

Ada apa dengan hari begitu gelapSaat dikau tak lagi seperti duluTertinggal langkah bayangmu yang selalu hadir baca juga : Langkah Tertahan oleh Tatapanmu Dikau pergiPergi membawa kata yang tiada lagi memesona indah sinar lentera hatiHai hati yang begitu gelapSampai bilar mata tersapu tanpa tanda jejakTerikat begitu erat

Di sini…Di kota ini…Kucoba tatap seluruh tempat iniKu tak ingin lengah sedikitpundalam sudut-sudut tempat ini Tapi tetap hampaKehidupan di sini terasa abstrakKemana ku melangkah?Kemana langkah ini mencari titik indah panorama kota baca juga : Adikku Dikau yang berjalan ituDaku hanyut, terlena dengan pesona kotadan datang indahnya senyummuSehingga melengahkan

Aku ingin sebentar saja pergiMengumpulkan kekayaan cerita luar kota yang bisa kubagiMenapak ke tanah baru yang sejarahnya dapat kugali baca juga : Filsafat Puisi (bagian limabelas) Lebih dalam dan lebih jauh dari siniBiar nanti waktu yang memberi tanda untuk kembaliAku, dengan jiwa yang lebih luasUntuk memahami kapasitas

Si bungsu dalam gubukApa kabarmu?Jika sudah, kenapa tertawa?Kenyangkah perutmu?atau justru lapar yang kau balut tawa AdikkuBerapa banyak yang ingin kau punya?Apa saja yang ingin kau milikiTidakkah kau ingin seperti mereka?Menangislah lalu genggam impiannya baca juga : Kekasih Pintalah sesukamuMemberontaklah jika tak ada yang kau dapatSetidaknya menangislah agarIbu bapak

SUARAKALA.id - Sobat Santuy, lagi bucin (budak cinta) kah? Kebetulan, kali ini Ly nulis puisinya nggak pake ngiris bawang merah lho. Manatahuan Sobat Santuy suka. Kamu yang tak henti dipikiran iniKetika memikirkanmuAku seolah tak mampuuntuk menghentikannya Kamu yang aku harap tak pernahBerhenti mencintaiku,Aneh memang

/