HomeBeritaBahas Hak Mahasiswa, HIMIP Universitas Riau Gelar Diskusi Daring

Bahas Hak Mahasiswa, HIMIP Universitas Riau Gelar Diskusi Daring

SUARAKALA.id – Pembahasan hak mahasiswa selama di kampus menjadi atensi tersendiri bagi Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMIP) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau.

Melalui Dinas Sosial dan Politik, pengurus HIMIP pun berinisiatif untuk membahasnya melalui forum diskusi yang digelar secara daring, Sabtu (12/6/2021) lalu.

Bertemakan ‘Kebebasan Mahasiswa Dalam Memperjuangkan Hak-haknya di Kampus’, diskusi tersebut diikuti oleh para pengurus HIMIP Universitas Riau dan sejumlah mahasiswa Ilmu Pemerintahan.

“Ini agenda rutin kami. Pembahasan hak mahasiswa sendiri menjadi agenda ketiga yang dikemas melalui Forum Sosial dan Politik (FOSIL),” ujar ketua panitia penyelenggara, Reytindra Danuwirsya saat dikonfirmasi Suarakala.id.

Rey, panggilan akrabnya, menjelaskan, HIMIP mengundang empat orang narasumber sebagai pemantik diskusi. Dimana, keempatnya merupakan alumnus jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Riau.

Mereka adalah Wiriyanto Aswir, Rahmad Nuryadi Putra, Ichwan Nur Fadillah, dan Fitrahadi Khaz.

Dalam pemaparannya, keempat narasumber tersebut menjelaskan beberapa alasan agar mahasiswa tetap berkomitmen untuk memperjuangkan hak-hak mereka selama berproses di kampus.

“Mahasiswa harus cerdas dalam menyikapi isu-isu kekinian. Perlu kajian yang mendalam dan tuntas mengenai isu-isu tersebut, baik persoalan kebijakan maupun persoalannya yang menyangkut hak – hak mahasiswa itu sendiri. Selain itu, mahasiswa perlu memiliki mentalitas yang kuat dalam berjuang. Kalau fokusnya memang mengenai hak – hak mahasiswa seperti transparansi penggunaan anggaran di kampus, tentu butuh kajian yang matang dan komprehensif,” tegas Fitrahadi Khaz.

Sebagai alumnus, Fitrah mengakui jika perjuangan dalam membela hak mahasiswa membutuhkan solidaritas yang tinggi.

“Perlu membangun rasa kekeluargaan dan tidak tertutup dalam berinteraksi,” sambungnya.

Sementara itu, Ichwan Nur Fadillah atau akrab disapa Dipa Nusantara menegaskan jika membela hak adalah kewajiban setiap orang.

“Bicara bebas dan hak sesuatu yang menakutkan pada hari ini. Kenapa? Karena ketidaktahuan kita terhadap banyak isu yang berkembang. Oleh karenanya, rasa takut seseorang sangat mudah untuk dikontrol dengan intimidasi macam-macam. Generasi harus tumbuh dalam memperjuangkan hak-hak mahasiswa. Setiap perjuangan punya risikonya masing-masing dan kami sudah melewati itu,” tegas Dipa.

Dari diskusi ini, lanjut dia, diharapkan para mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Riau dapat memainkan perannya sebagai agent of control.

“Harus ada kontrol sosial terhadap isu-isu yang ada. Terutama yang terjadi di dalam kampus yang menjadi hal terdekat kalian,” ujarnya lagi.

Senada dengan Dipa, Wiriyanto Aswir menyampaikan, setiap mahasiswa seharusnya dapat meningkatkan kapasitas dirinya di tengah persaingan global saat ini.

“Kita akan menghadapi bonus demografi. Jadi kualitas diri itu penting. Berbicara perjuangan hak, ternyata, hak-hak mahasiswa dan masyarakat secara umum untuk dapat memperoleh informasi itu sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi. Adik-adik mahasiswa bisa membaca itu dan memahaminya,” tegas Rian, panggilan akrabnya.

Dengan berlangsungnya agenda FOSIL ini, Rian berharap agar intelektual mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Riau dapat terus ditingkatkan.

“Semoga kalian bisa mempertahankan kegiatan seperti ini dan konsisten dalam agenda diskusi ini,” tutupnya.

Hampir sama dengan ketiga narasumber lain, Rahmad Nuryadi Putra juga menegaskan hal serupa.

Sebagai mantan Bupati HIMIP Universitas Riau, Putra mengatakan jika perjuangan terkait hak menjadi hal yang wajar dilakukan.

“Mahasiswa yang berproses di kampus, terutama di HIMIP, harus meningkatkan minat baca untuk memperkuat literasi. Selain itu, penting membangun interaksi sosial sesama pengurus dan mahasiswa lainnya. Daya analisis dan aksi itu lahir dari tradisi membaca sehingga narasi yang kita lahirkan itu memiliki pesan yang kuat dan punya dampak,” jelasnya.

Melalui kegiatan FOSIL, Putra berharap agar kegiatan positif seperti diskusi ini terus berlanjut ke depannya.

“FOSIL ini harus tetap ada sebagai lokomotif intelektual di era pandemi ini. Kampus yang seharusnya hadir dalam menghidupkan suasana akademis. Tapi, di era pandemi, FOSIL dan HIMIP harus eksis dengan caranya,” harap Putra.

Diketahui, Forum Sosial dan Politik (FOSIL) sendiri diinisiasi oleh Ichwan Nur Fadillah atau Dipa pada tahun 2015 silam.

Saat itu, Dipa berinisiatif untuk memberikan sumbangsih intelektual terhadap jurusannya.

Walau sempat dipenuhi oleh pro dan kontra, Dipa bersama tiga rekannya tetap berkomitmen agar FOSIL terus dikembangkan agar minat literasi mahasiswa di jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Riau terus meningkat.

Penulis : Fajar

leave a comment